Fitur Tersembunyi Google Chrome

Beberapa fitur menarik (ngumpet?) dari Google Chrome:

  • Guest mode.
    Kadang ada orang lagi buru-buru minjem laptop kita terus takut kepo sama history dan bookmark kita, cukup klik foto kita di sebelah kanan atas, lalu klik ‘Guest’.
  • Mengirim tabs ke ponsel.
    Uda jam pulang kantor mau lanjut baca artikel di ponsel, cukup klik kanan di tab itu lalu klik ‘Send to your devices’.
  • Group tabs.
    Tergolong fitur baru nih jadi kita bisa kelompokkin beberapa tabs berdasar warna tertentu, misal merah buat tab kerjaan (WA, Google Calendar, Google Drive), lalu kuning buat tab media sosial (IG, Twitter, dst).
  • Kalkulator serba guna.
    Cukup ketikkan di search box lalu enter, misal ‘123+123=’ atau ‘1 dollar = idr’ untuk konversi ke rupiah.
  • Mempercepat kinerja Google Chrome.

Cukup ketik chrome://flags, lalu pilih Enabled pada Experimental QUIC protocol

  • Ganti Theme.
    Bosen tampilan Chrome yang gitu-gitu aja. Settings – Appearance – Theme.
  • Setting Chrome otomatis buka kembali ke page terakhir yang ditutup.
    Settings – On start up – Continue where you left off.

The Best Smartwatch

Kulihat jam tangan sudah pukul satu..

Smartwatch sebenarnya bisa bikin kita hemat waktu dan tenaga ngecek ponsel karena cukup ngelirik dikit uda ketauan ada notif WA baru masuk atau engga.

Buat pengguna iPhone saya sangat menyarankan pilih Apple Watch, seri terbaru (6) bahkan bisa cek kadar saturasi oksigen dalam darah, itu lho yang semenjak Covid kemarin jadi rame karena kalau di bawah 95% berarti bisa aja kena yang namanya happy hypoxia. Dan juga di seri ini akhirnya punya sleep tracking buat tau seberapa bagus kualitas tidur kita. Btw jam ini cuma bisa pairing dengan iPhone, sori Android.

Buat pengguna Android, coba Samsung Galaxy Watch 3, fiturnya mirip kok sama Apple Watch 6, dari ngitung kadar oksigen sampai sleep tracking juga (kalau fitur ini sih, dari jaman smartband GearFit keluaran 2013 lalu juga uda punya). Dan opini pribadi ya, bentuknya lebih ‘dewasa’ daripada Apple ditambah ada crown-nya yang bisa diputer-puter layaknya jam ‘beneran’. Sayangnya memang apps-nya belum sebanyak Apple karena pake sistem Tizen (bukan WearOs-nya Google dan tentu juga bukan WatchOs-nya Apple). Btw jam ini bisa di-pairing dengan Apple. Samsung baique.

Buat yang merasa Watch 3 ini over-priced, bisa coba Watch Active 2 yang lebih murah 2 jutaan. Fitur sama persis, bedanya kali ini yang bisa diputer-puter si bezel-nya bukan crown-nya.

Tapi di balik semua kecanggihannya, semua smartwatch mentok palingan satu setengah hari harus ketemu colokan, buat yang terbiasa pake jam tangan dari bangun sampai tidur lagi sih ini perlu proses adaptasi.

Auto Mute Auto Off Video Zoom

Suara-suara di kaki lima..

Banyak dari kita WFH uda beberapa bulan belakangan bahkan mungkin sampai beberapa tahun ke depan, tapi masih banyak suara ‘bocor’ terutama orang-orang yang baru join di tengah meeting uda jalan.

“miNYAKKK”

“yur SAYUR”

“teee sateeee”

“remot remottt”

“solll spatuuu”

“servis paYUNGGG”

Begini caranya auto-mute dan auto-off video ketika kita join meeting di Zoom:

Ponsel: Masuk ke aplikasi Zoom, tap Settings di kanan bawah, pilih Meetings, geser ke kanan ‘Always Mute My Microphone’ dan ‘Always Turn Off My Video’.

Komputer: Masuk ke aplikasi Zoom, klik Settings di kanan atas, pilih Audio, centang ‘Mute my microphone when joining a meeting’. Lalu ke bagian Video, centang ‘Turn off my video when joining meeting’.

Gampang banget kann gaess, sebarkan jangan berhenti di kamu..

Clubhouse

Ngobrol-ngobrol sama kamu tukar pikiran denganmu..

Di 2015 dulu ada apps Discord yang banyak dipakai gamer buat ngobrol. Twitter juga rilis Audio Spaces. Dan belakangan ada CLUBHOUSE.

Beda dengan Zoom di mana kita harus klik link tertentu untuk join room, di Clubhouse bebas join atau keluar room. Meski untuk punya akun-nya harus by invitation (at least sampai detik ini). Dan beda-beda yang lainnya, antara lain:

  1. Cuma suara aja. Jadi ga ada istilah “video belum ON tu..” atau ga perlu pusing gonta ganti virtual background.
  2. Cuma di iPhone. Yah secara mereka developer-nya :p

Kalau Anda beruntung di-invite oleh orang lain, Anda bisa undang 2 orang lagi, dan seterusnya.

Belakangan hype soalnya ya itu tadi by invitation only, berasa EKSLUSIF masuk komunitas tertentu. Hal-hal yang mungkin uda lama ga dirasain semenjak adanya isolasi de el el..

Chromebook

Chromebook, ini apaan lagi dah?

Biasanya kita cuma dikasih 2 pilihan pas mau beli laptop, kalau ga Windows ya MacOs-nya Apple, tapi beberapa tahun belakangan nama Chromebook mulai rame. Laptop/tablet ini ga pake Windows/MacOs, tapi pake browser Chrome doang sistemnya. Iya, browser Chrome yang biasa kita pake itu.

Kalau di depan laptop, kita cuma bales WA, scrolling IG, nonton Youtube, Netflix and chill, Chromebook ini pas banget karena rata-rata device-nya lebih terjangkau daripada laptop Windows, dan pastinya lebih tipis dan enteng!

Tapi memang ada beberapa kerjaan yang rasanya kurang cocok kalau pake Chromebook, di antaranya:

  1. Gaming. Yah meski Chromebook bisa buka apps Android, tapi kalau mau dipake buat gaming kelas berat, ya mending beli laptop/desktop sekalian. Atau kalau percaya sama kecepatan internet di Indo, ada pilihan langganan Stadia/GeForce Now, nge-game tapi cloud-based.
  2. Editing video. Lagi-lagi meski banyak apps Android yang powerful, tetep beda sama apps di Windows/MacOs yang fiturnya dibuka full. Contoh sederhana Photoshop versi mobile sama Windows/MacOs, fiturnya kena ‘diet’ banyak.

Galaxy S, dari masa ke masa.

S1, 5.5 juta, rilis Maret 2010, meski RAM-nya cuma 512MB tapi uda paling ngebut di jamannya bahkan daripada iPhone 3G. Rilis di Android 2.1 mentok dapet update di 2.3.

S2, 7.7 juta, rilis setahun kemudian, pertama kalinya pakai prosesor Qualcomm. Sebenarnya di global rilis beberapa versi yang bikin bingung buat nebak ini versi yang mana ya. Ada versi yang punya tombol home di depan, dua tombol kapasitif di kiri kanan. Ada juga yg 4 tombol kapasitif. Tapi yang masuk Indo, yang versi pertama. Rilis di Android 2.3 mentok dapet update di 4.1.

S3, 8.5 juta, pertama kalinya penjualan seri S-nya Samsung lebih ‘tokcer’ daripada iPhone. Rilis di Android 4 mentok dapet update di 4.4.

S4, 9 juta, ponsel Samsung paling laris sampai detik ini (bahkan ponsel Android terlaris juga sampai detik ini). Padahal design mirip S3 bahkan FM Radio uda mulai hilang ditambah makin banyakanya apps ga penting. Salute! Rilis di Android 4.2 mentok dapet update di 5.

S5, 9 juta, terakhir kalinya seri S pakai back case dari bahan plastik jadi bisa copot baterai. Tapi pertama kalinya bisa unlock ponsel pakai sidik jari. Rilis di Android 4.4 mentok dapet update di 6.

S6, 10.5 juta, karena penjualan S5 ga sebagus S4 sebelumnya, S6 ini harus keliatan premium, akhirnya pertama kalinya pakai layar lengkung . Meski jadi ga tahan air dan slot MicroSd hilang. Terus juga ya karena harganya tergolong ‘over-priced’ tetep ga bisa nyalip penjualan bahkan S5 sekalipun. Rilis di Android 5 mentok dapet update di 7.

S7, 11 juta, di seri ini balik lagi jadi bisa tahan air dan ada slot MicroSd. Rilis di Android 6 mentok dapet update di 8.

S8, 12 juta, isu Gal Note 7 meledak sampai dilarang di aiport bikin penjualan seri ini sedikit melempem. Belum lagi letak sensor sidik jari buat unlock ponsel deket banget sama kamera di S8 ini bikin penjualan makin anjlok. Rilis di Android 7 mentok dapet update di 9.

S9, 12 juta, di S9 ini, sensor sidik jari jadinya di bawah kamera belakang (bukan di samping lagi kayak di S8) jadi ga sering salah sentuh. Tapi tetep sih karena model depan ga beda jauh sama S8, penjualan makin turun di seri ini (dari seri S6, turun teroos). Rilis di Android 8 mentok dapet update di 10.

S10, 14 juta, pertama kalinya pakai model ‘tompel’ buat kamera depan, dan juga sensor sidik jari pindah ke layar. Seri S terakhir yang dibilang paling LENGKAP (ada colokan headphone, microSD, dan tahan air). Rilis di Android 9 mentok dapet update di 12.

S11, ehhh S20, 16.5 juta, yap lompat jauh, yang pakai S10 langsung berasa ketinggalan banget. Di seri ini, colokan headphone uda mulai ga ada. Di akhir 2020, rilis S20FE, jauh lebih laris dari S20, S20 Plus, atau S20 Ultra. Jelas sih, ini worth it banget (bodi dan prosesor sama persis cuma beda di kamera). Rilis di Android 10 mentok dapet update di 13.

S21, 17 juta, di seri ini (selain colokan headphone yang uda hilang kayak di S20), microSD juga hilang, dan ga ada charger di dus. Selain versi Ultra juga semua layarnya uda balik lagi ke ‘flat’ ga ada lengkung-lengkung. Rilis di Android 11 mentok dapet update di 14.

%d bloggers like this: